Ini Alasan Pernikahan Dini Lebih Indah Jika Dihindari

Jum'at, 27 September 2019 22:06 D. Farhan Kamil Healthy

Ini Alasan Pernikahan Dini Lebih Indah Jika Dihindari


Koropak.co.id - Diskusi tentang pernikahan dini sebenarnya bukan hal baru untuk diangkat. Diskusi ini sudah sering mengemuka sebagai topik utama di berbagai kajian. Sekalipun demikian, masalah ini selalu menarik untuk ditelisik lebih jauh tentang apa dan bagaimana pernikahan dini dilihat dari berbagai perspektif.

Hal tersebut diutarakan oleh salah seorang Dosen Universitas Siliwangi (Unsil), Dr. H. Acep Zoni Saeful Mubarok, M.Ag, yang bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan pengabdian masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Unsil di Gedung Dakwah Islamiyah Kota Tasikmalaya, Kamis (26/9/2019).

Menurut Acep, revisi UU Perkawinan nomor 1 tahun 1974 menyepakati usia minimum nikah bagi laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun. Sebelumnya, ketentuan dalam UU tersebut menentukan usia minimum untuk menikah adalah 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki.

"Ketentuan batas umur, seperti diungkapkan juga dalam Kompilasi hukum Islam pasal 15 ayat 1, mendasarkan pada pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan," ujarnya.

Dalam revisi pasal 7 UU nomor 1 Tahun 1974 itu, tutur Acep, terdapat setidaknya dua hal yang menjadi sorotan serius. Pertama, untuk mencegah terjadinya pernikahan usia dini, yang membawa dampak lanjutan pada terjadinya ibu hamil dan melahirkan pada usia muda, yang berisiko tinggi terhadap kesehatan ibu hamil dan melahirkan.

"Pernikahan dini dalam konteks kesiapan mental psikologis pasangan yang menikah, dikuatirkan berisiko tinggi terhadap angka perceraian," katanya.

 

Koropak.co.id - Ini Alasan Pernikahan Dini Lebih Indah Jika Dihindari (1)

 

Baca : Tasikmalaya Terancam Ledakan Penduduk

Kedua, ucap Acep, untuk melindungi hak dan kepentingan anak. Menurut UU nomor 23 tahun 2002 sebagai implementasi Konvensi Hak Anak, ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah sampai dengan usia 18 tahun.

Dalam perspektif hukum Islam, ucap Acep, aturan batasan usia pernikahan tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Quran. Pembatasan hanya diberikan berdasarkan kualitas pasangan yang harus dinikahi oleh mereka sebagaimana dinyatakan dalam surat An-Nisaa 4 : 6.

"Dalam penafsian pada ayat 'sampai mereka cukup umur untuk kawin', para ulama memberikan pendapatnya, seperti yang diungkapkan oleh Mujahid, bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah baligh. Demikian juga pedapat Jumhur ulama mengatakan maksud ayat tersebut adalah baligh," tutur Acep.

 

Koropak.co.id - Ini Alasan Pernikahan Dini Lebih Indah Jika Dihindari (3)

 

Baca : Perhatian Kepada Gender Dianugerahi

Secara biologis, masa aqil baligh seharusnya telah dialami oleh tiap-tiap orang pada rentang usia antara 14 sampai 17 tahun. Salah satu ciri tanda seseorang sudah aqil baligh adalah datangnya mimpi basah (ihtilam). Para ulama pada umumnya berpendapat, seseorang disebut dewasa apabila telah mengalami mimpi bagi laki-laki dan telah mengalami haid bagi perempuan. Apabila kedua tanda ini tidak ditemukan, maka tanda kedewasaan dapat dilihat segi usia.

Dalam perspektif gender dan kesehatan dari kacamata kemaslahatan, pernikahan dini sama saja dengan mengabaikan pertimbangan tingkat pendidikan dan pengetahuan anak yang masih rendah dan menutup peluang bagi anak untuk melanjutkan pendidikannya demi masa depannya yang lebih baik.

Perkawinan dini akan berujung pada kehamilan dan persalinan anak di usia dini, yang akan sangat berisiko membuat si ibu mempunyai anak terlalu banyak dan jarak antara kehamilan yang terlalu dekat.

"Ditinjau dari segi kesehatan, pasangan nikah dini memiliki kerentanan yang tinggi, karena risiko yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Seperti kematian ibu maupun kematian bayi serta rendahnya derajat kesehatan ibu dan anak," katanya.*

 

Baca pula : Kabupaten Tasikmalaya Diintervensi