Equality Anniversary Jilid 10 Digelar Besok

Sabtu, 30 Maret 2019 13:07 Clara Aditia Musik

Equality Anniversary Jilid 10 Digelar Besok


Koropak.co.id - Equality Production mempersembahkan event akbar extreme music dalam Equality Anniversary jilid 10 yang akan digelar di Gedung Kesenian Tasikmalaya, besok Minggu (31/3/2019) mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.

Bagi para pecinta underground, jangan sampai lewatkan event yang digelar dalam rangka anniversary Equality Production ke-10 ini, mengingat akan banyak tampil band-band underground kenamaan mulai dari Bloodsaw, Discorpse, Disease Poor People, Sensorium, Gaijin, Rotien Up, Muscular Distrophy, Servant of God, Wait The Fallen, Severed Sanit, Death Veil, Tuan Jenggot, Saturday For Punch, Atrium, The Last Wolf, Karinding Sadulur, Naon Ska, dan Pankpunk.

Guna menghangatkan suasana, Equality Production sebagai event organizer yang konsisten sejak 2008 menyuguhkan event-event musik underground itu, akan menghadirkan bintang tamu Sufism. Di akhir acara, Equality Production menghadirkan sharing musik dengan Kumank, personel Dead With Falera.

Dikonfirmasi saat berkunjung ke Kantor Redaksi Koropak, Jumat (30/3/2019) Personel Band Gaijin, Falhan Basya menuturkan Equality Production merupakan satu-satunya Event Organizer yang konsisten menghadirkan musik-musik underground dan mulai eksis sejak 2008.

"Dua event yang konsisten digelar setiap tahun yakni Tasikmalaya Rock In Fest dan Tasikmalaya Bersatu. Mungkin untuk Event Organizer musik extreme hanya Equality Production yang eksis hingga saat ini," kata musisi yang akrab disapa Aang The Great ini.

 

Koropak.co.id - Equality Anniversary Jilid 10 Digelar Besok

 Baca : Paradigma Extreme Music Harus Diluruskan

 

Dikatakan Aang, untuk musik underground sendiri, pada realitanya memiliki pangsa pasar yang menjanjikan. Tercatat ada beberapa band indie asal Tasikmalaya yang saat ini namanya sudah banyak dikenal, mulai dari Marka Merah, Melodrama, Little Lizard, Tigerwork, Tinta Hitam, hingga Gaijin. Bahkan, event underground dapat dikatakan sebagai event musik terlaris, mengingat dalam setiap eventnya, tiket yang disediakan selalu habis terjual.

"Di sini kita luruskan pandangan terlebih dahulu. Musik underground merupakan musik yang bergerak secara bergerilya, tidak mainstream seperti pada umumnya. Bahkan tidak sedikit musisi underground yang tidak mau beranjak mainstream, dan lebih nyaman di skup undergroundnya meskipun nama mereka sudah banyak dikenal. Contohnya Burger Kill dan Seringai. Mereka konsisten main di extreme music dan mereka sukses," katanya.

Bahkan bicara soal label, kata Aang, para musisi underground lebih memilih membuat label sendiri, karena mereka tidak mau bergantung pada major label. Hal itu pula yang menjadikan band-band underground lebih produktif dalam berkarya.

"Memang mungkin karya musik extreme belum banyak bisa dicerna publik. Namun, bukan berarti pangsa pasar underground terbatas. Tidak sedikit musisi underground yang saat ini telah berjaya di industri musik Tanah Air, contohnya Superman Is Dead, Pee Wee Gaskin, Endang Soekamti, dan masih banyak musisi lainnya," katanya.*

 

Baca : Pentingnya UKM Seni Musik di Kampus

 



Berita Terkait

Paradigma Extreme Music Harus Diluruskan

Paradigma Extreme Music Harus Diluruskan

30 Maret 2019

Pegiat musik yang juga personel band Gaijin, Falhan Basya menuturkan terkait event musik underground, ada sebuah paradigma publik yang harus diluruskan.…