Rachel Vennya Diisukan Kabur dari Karantina, Begini Dampaknya Menurut Pakar Epidemiologi

Rabu, 13 Oktober 2021 10:52 Eris Kuswara Intermezo

Rachel Vennya Diisukan Kabur dari Karantina, Begini Dampaknya Menurut Pakar Epidemiologi

 

Koropak.co.id - Setelah pulang dari Amerika Serikat, dikabarkan Selebgram, Rachel Vennya kabur dari kewajibannya untuk menjalani karantina selama 8 hari. Imbasnya kini Satuan Tugas Covid-19 pun tengah menelusuri kebenaran informasi terkait kaburnya Rachel dari Wisma Atlet Pademangan, Jakarta.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menegaskan bahwa kewajiban untuk menjalani karantina bagi pelaku perjalanan dari luar negeri itu dibuat untuk keselamatan bersama. Sehingga, untuk para WNI yang baru saja pulang dari luar negeri wajib menjalani karantina selama delapan hari sesuai dengan Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 18 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi.

"Pemerintah tentunya mengecam pelanggaran kebijakan yang seyogianya dibuat untuk menjamin kesehatan dan keselamatan bersama. Oleh karena itu kami mengimbau agar semua petugas di lapangan, bisa bertindak tegas terhadap semua pelanggaran yang ada tanpa pandang bulu," kata Wiku sebagaimana dihimpun Koropak, Rabu (13/10/2021).

Sementara itu, diketahui sebelumnya, kabar mengenai kaburnya Rachel Vennya dari karantina di Wisma Atlet Pademangan, ramai menjadi perbincangan hangat publik di media sosial. Pakar epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman pun angkat bicara terkait hal itu. Pihaknya mengatakan bahwa karantina menjadi tanggung jawab sosial dan wajib untuk diikuti mereka yang kembali dari perjalanan luar negeri.

"Kalau di negara-negara maju, ketika kita melanggar aturan karantina maka bisa kena denda yang besar dan itu adalah aturan yang diterapkan dengan tegas. Selain itu, perlu diketahui juga bahwa karantina adalah kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan publik di dalam negeri dari potensi ancaman masuknya varian virus corona maupun virus apapun pada situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini," tegas Dicky.

 

Baca : 4 Artis Ini Bicara Soal Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Jika melihat kasus Rachel Vennya yang kabur dari karantina, lantas hal apa yang menyebabkan seseorang itu tidak patuh?

Pihaknya pun menjelaskan, dalam kasus ini agar semua orang itu bisa patuh dalam menjalani karantina, seperti bagi mereka yang baru pulang dari perjalanan luar negeri, contohnya pilihan lokasi karantina.

"Kepatuhan karantina itu sendiri berkaitan dengan kenyamanan. Misalnya, kalau sudah divaksin dan hasil tes negatif, maka karantina selama 7 hari bisa dilakukan di hotel yang bekerja sama dengan pemerintah. Karena dengan bayar sendiri, itu akan bisa membuat dia nyaman," paparnya.

Melanggar aturan karantina, lanjut Dicky, itu dapat memberikan ancaman yang serius terhadap kesehatan publik. Oleh karena itulah, beberapa negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 sebab mereka menerapkan aturan ketat terkait karantina.

"Melanggarnya aja dikenakan sanksi, karena itu bisa mengancam kesehatan publik. Kalau melanggar, atau sampai kabur dari karantina, maka harus ada sanksi, bisa itu denda atau sanksi pelayanan sosial," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa karantina harus dilalui oleh WNI maupun WNA yang masuk ke Indonesia. Karena jika aturan ini dilanggar, maka dapat mengancam kesehatan publik. "Kita tahu bahwa di Indonesia, penularan Covid-19 hingga saat ini masih di level penularan komunitas," jelas Dicky.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 



Berita Terkait