Jangan Mengabaikan Kesehatan Jiwa Ibu Hamil

Senin, 11 Oktober 2021 09:33 Cepy RN Healthy

Jangan Mengabaikan Kesehatan Jiwa Ibu Hamil

 

Koropak.co.id - Tolong, perhatikan serius kesehatan jiwa ibu hamil. Saat hamil mentalnya mudah rapuh. Juga ada nyawa lain yang harus diselamatkan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masa kehamilan adalah masa yang penuh emosi, mulai dari emosi yang baik hingga emosi yang buruk.

Munculnya gangguan kesehatan mental saat hamil dapat memicu perilaku berisiko bagi kehamilan dan mempengaruhi kesehatan seorang ibu hamil juga sang bayi dalam kandungannya.

Perubahan pada kehamilan bukan hanya perubahan fisik, seperti mual-mual di pagi hari, sakit punggung, atau sakit kepala, hampir semua ibu hamil pasti merasakan perubahan emosi jiwanya.

Dikutip dari Hello Sehat, kesehatan mental yang lebih ringan seperti gangguan mood dan merasa cemas, bisa menjadi lebih serius pada waktu-waktu tertentu. Hal itu juga bisa mengganggu kedekatan antara ibu dan bayi ketika lahir.

Berikut beberapa masalah kesehatan mental yang dapat muncul pada ibu hamil dan cara mengatasinya.

1. Depresi

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang paling umum pada masa kehamilan.

Hal ini sering menjadi pemicu, dan muncul bersama dengan gejala gangguan kesehatan mental lainnya seperti gangguan kecemasan, obsessive compulsive disorder, dan gangguan pola makan.

Depresi pada ibu hamil memiliki pola yang bervariasi. Pada trimester pertama dan ketiga, biasanya akan terasa makin berat, namun cenderung lebih rendah atau menurut pada trimester kedua.

Depresi saat hamil ditangani sama seperti pada umumnya dengan pilihan penanganan utama yang aman bagi janin, seperti terapi perilaku kognitif dan terapi kejiwaan interpersonal.

 

Baca : 20 Persen Penduduk Indonesia Berpotensi Gangguan Jiwa

2. Panic disorder

Gangguan yang dapat muncul saat masa kehamilan meskipun wanita tersebut tidak memiliki riwayat pernah menderita panic disorder. Hal ini muncul dari rasa cemas dan stress yang ditandai dengan peningkatan hormon kortisol.

Jika tidak ditangani, peningkatan kortisol dapat mempengaruhi perkembangan janin dalam kandungan.

Penanganan tanpa obat dapat dilakukan dengan cara terapi perilaku kognitif dan supportif, menerapkan teknik relaksasi, penerapan sleep hygiene, serta pengaturan pola makan.

3. Obsessive-compulsive disorder (OCD)

OCD adalah gangguan berupa obsesi dan kebiasaan berulang yang sulit dikendalikan, yang dapat muncul di periode awal masa kehamilan, dan meningkat seiring masa kehamilan hingga pasca melahirkan.

OCD saat hamil dapat sangat mengganggu aktivitas ibu hamil dan perlu ditangani dengan terapi perilaku atau dengan konsumsi obat.

4. Gangguan Pola Makan

Meskipun hal ini cenderung membaik saat kehamilan, namun gangguan pola makan masih dapat terjadi saat masa kehamilan.

Gangguan pola makan bukan hanya dapat mempengaruhi kesiapan ibu hamil untuk melahirkan normal, tapi juga dapat meningkatkan risiko depresi pasca melahirkan serta dapat berdampak melahirkan bayi berat lahir rendah.

 

Baca : Hari Kesehatan Mental Sedunia, WHO Singgung Dampak Pandemi Covid-19

5. Gangguan Bipolar

Bipolar Disorder merupakan gangguan yang terjadi secara kambuhan pada ibu hamil, namun kejadiannya lebih sering terjadi pasca melahirkan.

Seperti gangguan bipolar pada umumnya, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan obat mood stabilizer, namun memerlukan pemeriksaan serta pertimbangan risiko beserta manfaat.

Meskipun demikian, pengawasan kondisi kejiwaan dan perilaku dari ibu hamil dengan bipolar adalah hal yang paling penting.

6. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan psikosis yang dapat meningkat ataupun menurun pada masa kehamilan. Ibu Hamil dengan gangguan ini membutuhkan pengawasan dan penanganan dokter.

Skizofrenia berdampak pada kesehatan ibu dan bayi akibat mendapat perawatan yang tidak sesuai, bisa memicu lahir prematur dan berat lahir rendah, hingga kematian janin dan ibu hamil.

Penanganan gejala psikosis akut pada masa kehamilan sangat diharuskan, untuk mengurangi intensitas dan dampak skizofrenia.

Hal ini cakupan dukungan, pengobatan, dan penanganan intensif di rumah sakit. Terapi elektroconvulsive juga diperlukan untu menangani gejala depresi pada penderita.

Selain itu, perhatikan pula perubahan emosi pada ibu hamil. Disarankan agar mencatat perubahan emosi atau gangguan jiwa pada buku harian.

Patut diwaspadai ketika sudah berlangsung lebih dari 2 minggu dan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini