Kisah Pengangkatan Pidi Baiq Jadi Imam Besar The Panas Dalam

Senin, 04 Oktober 2021 10:36 Redaksi Musik

Kisah Pengangkatan Pidi Baiq Jadi Imam Besar The Panas Dalam

 

Koropak.co.id - Bisa jadi ini adalah fakta yang baru terungkap atau malah versi baru dari sejarah NKRTPD, singkatan dari Negara Kesatuan Republik The Panas Dalam. Konon NKRTPD pernah mendeklarasikan sebuah negara.

NKRTPD berdiri pada tanggal 18 Agustus tahun 1995, di salah satu ruangan kuliah yang ada di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), dan yang menjadi Imam Besarnya adalah Pidi Baiq. Ihwal pengangkatan jabatan untuk orang satu ini ternyata terungkap dalam forum ini

"Berdasarkan sebuah wangsit," kata Pidi Baiq, dalam Pengadilan Musik Virtual Djarum Coklat Dot Com (DCDC). Ungkapan itu keluar saat kehadiran terdakwa The Panas Dalam Bank.

Sidang dengan nomor perkara 1/48/dcdc/2021 berlangsung seru dan menghibur, berdurasi 2 jam 39 menit dan ditayangan dalam YouTube DCDC TV, tanggal 1 Oktober 2021.

Bertindak sebagai Hakim Ketua Man Jasad, Jaksa Penuntutnya Budi Dalton dan Pidi Baiq, Panitera Edi Brokoli, Jaksa Pembela dua wanita cantik Jessica Katharina dan Sabrina Saleh. Sedangkan terdakwa dalam sidang kali ini adalah The Panas Dalam Bank.

"Atas segala karya The Panas Dalam Bank dalam blantika musik Indonesia, sudah tentu musisi yang satu ini patut mendapatkan perhatian. Hal ini menjadi dasar menghadirkan The Panas Dalam Bank untuk diuji ketahanannya untuk karya-karya yang sudah dihasilkan," kata Edi Brokoli.

Man Jasad sebagai Hakim Ketua membuka persidangan dengan membaca basmallah dan salam. Lalu, vocalis metal ini menguji sejumlah tuntutan yang disampaikan jaksa penuntut kepada terdakwa.

Di pertengahan pengadilan, ada bagian penting yang disampaikan Ayah Surayah, sapaan karib Pidi Baiq, soal sejarah asal muasal dia menjadi Imam Besar. Jabatan ini patut dipertanyakan karena isi persidangan malah menyeret Pidi Baiq yang dikeluarkan dari The Panas Dalam Bank.

"Ini mengaku Imam Besar tapi kenapa dipecat?" tanya Budi Dalton. "Kunaon anda, kenapa mengaku-ngaku sebagai imam besar? Tapi dipecat?"

 

Baca :

Kaulinan Baheula Bukan Permainan Biasa, Ada Pelajaran dan Filosofi

Musisi Ini Berkiprah di Kujang, Bangun Kampung Via Angklung

 

Pidi Baiq menjawab bahwa jabatan Imam Besar ini diberikan. Berdasarkan mimpi. "Mimpi, ada tamu aki-aki. Kamu aja imam besar," kata Ayah.

Man Jasad terlihat ragu dengan jawaban Pidi Baiq. "Itu jin kafir. Sesat."

Budi Dalton kembali mengorek asal usul jabatan ini. Apakah ditunjuk, diberikan atau mengangkat sendiri. Ia pun mengulik tentang wangsit yang disampaikan Pidi Baiq.

Ayah Surayah mengungkapkan bahwa dirinya ditunjuk, ditahun 1995. Jadi soal jabatan itu, jika belakangan ada yang sama dengan jabatan imam besar, dia menyebut sudah lebih dulu. Sejak tahun 1995.

Kembali ke cerita Pidi Baiq, wangsit dari kakek-kakek itu jelas. Si kakek, kata dia, memakai pakaian putih, naik kuda ganesha. Dalam mimpinya itu, si kakek ini tertawa terus saat melihat Ayah Surayah.

Saat mendekat, si kakek ini tiba-tiba memberi uang kepada Pidi Baiq sebesar Rp 1.000. Tentu saja, uang segitu seperti menghina Pidi Baiq.

"Ku saya dikasih lagi dua ribu. Wah untung euy, kata si kakek. Lalu memberikan lagi uang itu. Saya kasih lagi empat ribu," katanya.

Lama kelamaan, interaksi antara Ayah Surayah dengan si kakek ini malah seperti transaksi bisnis. "Setelah itu kan saya ngomong, Ki jangan bisnis lah sama saya mah, gitu. Lalu aki ini bilang, ya udah kamu jadi Imam Besar. Gitu."

Man Jasad sebagai Hakim Ketua tentu masih penasaran dengan keabsahan wangsit yang diterima Pidi Baiq ini. "Hari apa (Mimpinya)?"

"Rabu," jawab Pidi Baiq.

"Gak valid," kata Man Jasad.

 

Baca :

Hari Tani Nasional dan Iksan Skuter dengan Lagu Petani

Kancah Metal Berduka, Eben Burgerkill Meninggal Dunia

 

"Kamis jigana mah."

Setelah itu Pidi Baiq menjelaskan, "Kalo kata saya jangan dipercaya, tapi kalo wangsit harus percaya. Biasa lah tipu-tipu, bagaimana menipu masyarakat biar dipercaya, saya dapat wangsit."

Sebetulnya dalam Pengadilan Musik edisi ke-48 yang digelar secara virtual di YouTube DCDC TV tersebut, yang terdakwa adalah The Panas Dalam Bank. Namun karena jabatan Pidi Baiq merupakan Imam Besar band asal Bandung ini, maka suasana yang terjadi adalah Jaksa Penuntut yang seolah menjadi terdakwa.

Pengadilan Musik berakhir dengan kehebohan. Hakim Ketua Man Jasad menutup persidangan dengan membacakan keputusan dan mengetuk palu.

"Melihat sepak terjang The Panas Dalam Bank yang konsisten lebih dari 20 tahun. Ini membuktikan bahwa kekonsistenan mereka dalam berkarya membuktikan bahwa mereka tetap ada. Maka dari itu saya putuskan The Panas Dalam Bank dihukum seumur hidup untuk terus berkarya dengan catatan harus tidak ada Pidi Baiq," kata

Seperti diketahui, The Panas Dalam Bank baru merilis single terbarunya berjudul "Kamu Orang Gula" yang menceritakan tentang kerinduan kepada pasangannya yang manis diibaratkan gula. Dalam acara pengadilan tersebut, lagu ini ditampilkan dengan ciamik.

Adapun Pengadilan Musik ini melibatkan para musisi dan budayawan yang sudah diakui kepakarannya. Para terdakwa yang ditampilkan merupakan para musisi baik personal atau grup, yang dinilai konsisten berkarya. Dengan penyajian acara yang seru, menghibur dan inspiratif, tak heran acara ini selalu jadi trending topik.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini